KH Imaduddin Utsman Al-Bantani Paparkan Fakta dan Data Sejarah Seputar Nasab Kaum Ba'alwi
Sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh KH Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam sebuah rekaman video berdurasi lebih dari 29 menit yang beredar
Warta Batavia - BANTEN – Sebuah pernyataan menarik disampaikan oleh KH Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam sebuah rekaman video berdurasi lebih dari 29 menit yang beredar baru-baru ini. Dalam rekaman tersebut, ia membahas secara panjang lebar mengenai fakta dan data sejarah terkait nasab Kaum Ba'alwi di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan KH Imaduddin dalam sebuah forum yang ditujukan kepada Dr. Sugeng Sugiarto, Dr. Haikal, Dr. Roy, Mas Charlie Jailani, serta seluruh subscriber Reza Inside.
Pembahasan Unit Biologis Nabi Muhammad
Dalam paparannya, KH Imaduddin mengangkat isu tentang konsep unit biologis Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, jika seseorang mempercayai nasab Ba'alwi, maka ada konsekuensi terhadap bacaan selawat yang diamalkan.
"Apabila kita mempercayai nasabnya Ba'alwi berarti baca selawatnya salah alamat. Karena Nabi Muhammad adalah unit biologis," ujar KH Imaduddin pada segmen 7.147 detik.
Ia menjelaskan bahwa sebagai makhluk biologis, Nabi Muhammad SAW mewarisi biologi dari leluhurnya dan menurunkan biologi kepada anak-anak serta keturunannya hingga saat ini, baik melalui garis perempuan maupun garis laki-laki.
Perbandingan Haplogrup DNA
KH Imaduddin memaparkan perbandingan hasil tes DNA antara berbagai klan yang mengaku sebagai keturunan Nabi. Ia menyebutkan bahwa Bani Qatadah di Makkah, Bani Sulaimaniyah, Bani Araji di Madinah, Bani Qandil di Mesir, Bani Faiz di Karbala, dan Bani Rasli di Yaman memiliki hasil tes DNA yang identik.
"Padahal di antara mereka ada permusuhan politik di antaranya. Tetapi ketika hari ini mereka tes DNA, semuanya tes DNA-nya identik. Mereka semua berada di dalam haplogrup J1 dengan penanda genetik Sayidina Ali 10.500," jelasnya pada segmen 10.380-10.500 detik.
Sementara itu, ia menyebutkan bahwa kelompok Ba'alwi memiliki haplogrup G. Menurut penjelasannya, secara ilmu biologi, mustahil dua kelompok dengan haplogrup berbeda dapat bertemu dalam satu kakek bersama pada rentang 1.300 tahun yang lalu.
Verifikasi Historis dan Genealogis
KH Imaduddin mengklaim telah melakukan penelitian terhadap silsilah Bani Qotadah menggunakan metodologi historis. Ia menyebutkan bahwa setiap nama dalam silsilah Bani Qotadah sejak tahun 287 Hijriah hingga saat ini bersifat verifikatif.
Nama-nama tersebut, menurutnya, tercatat dalam berbagai kitab nasab dari abad ke-4 hingga ke-14 Hijriah, di antaranya kitab Silsilatul Alawiyah, Al-Majdi, Muntaqilatut Thalibiyah, Tahdzibul Ansab, Asyajar al-Mubarakah, Al-Fakhri, Al-Asili, Umdat Thalib, serta kitab-kitab lainnya.
Sebaliknya, ia menilai bahwa sebelas nama yang ada dalam silsilah nasab Ba'alwi adalah figur-figur ahistoris dan fiktif. "Tidak ada dalam kitab nasab, tidak ada di dalam kitab sejarah," tegasnya pada segmen 14.520-15.000 detik.
Pandangan tentang Pernyataan Gus Yahya
KH Imaduddin juga menanggapi pernyataan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), terkait isu nasab Ba'alwi. Menurutnya, pernyataan Gus Yahya bersifat multitafsir dan memiliki motif yang tidak tunggal, mencakup motif normatif, strategis, dan ideologis.
Ia menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak mewakili NU secara kelembagaan. "Dia tidak mewakili PBNU," ujarnya pada segmen 15.460-15.560 detik.
Relasi NU dan Ba'alwi dalam Catatan Sejarah
KH Imaduddin memaparkan sejumlah catatan sejarah terkait relasi antara kiai-kiai Nusantara dan kelompok Ba'alwi. Ia menyebutkan peristiwa tahun 1888 ketika kiai-kiai Banten berperang mengusir penjajah di Cilegon, di mana Utsman bin Yahya disebutnya justru mendapatkan bintang salib dari Belanda.
Pada tahun 1926, saat para kiai Nusantara mendirikan Nahdlatul Ulama, kelompok Ba'alwi disebutnya mendirikan Rabithah Alawiyah. Ia juga menyinggung sejumlah tokoh Ba'alwi yang disebutnya menerima bintang salib dari pemerintah kolonial Belanda. Yang mana ini berarti mereka telah berjasa besar di mata pemerintah kolonial Belanda.
Data Persentase Keyakinan di Lingkungan NU
Menjelang akhir paparannya, KH Imaduddin menyampaikan data terkait tingkat keyakinan terhadap nasab Ba'alwi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia mengklaim bahwa mayoritas warga NU dan kiai NU tidak meyakini nasab Ba'alwi.
"Yang percaya hanya beberapa titik saja di dalam Nahdlatul Ulama," ujarnya. Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data yang dibahas dengan pihak-pihak terkait, angka keyakinan terhadap nasab Ba'alwi di kalangan pengurus PC dan PW NU disebutnya berada di bawah lima persen. (Qodrat Arispati)
Narasumber: KH Imaduddin Utsman Al-Bantani, simak videonya di YouTube:

